Potret Di Saat BDR

Cerita pagi jum’at ini

Ketika kaki saya melangkah menuju gerbang sekolah. Tetiba terdengar seorang anak gadis belia menyapa dari arah belakang.

“Bu Novi yah?” begitu terdengar suara dari arah belakang itu.

Sontak sayapun menengok ke arah belakang sambil menjawab, “Iya Nak.”

“Assalamu’alaikum Bu, “sapa gadis itu tersenyum sambil mengarahkan sepeda yang sedang dikayuhnya ke pinggir untuk kemudian berhenti ke arah saya.

“Ibu, saya Uswah kelas 5 A,” kata gadis itu lagi..

“Oh iya sayang, mau kemana Nak?” tanya saya penasaran sembari mata mengamati sepeda gadis itu yang sarat bawaan makanan dalam box plastik dikemas kresek warna putih. Bagian depan dan belakang penuh terisi bawaan.

“Mau jualan Bu, tiap pagi saya keliling jualan kue untuk membantu Ibu di rumah ke komplek-komplek perumahan.

“Masya Allah Nak,.,” gumam saya sambil membatin, “anak sekecil ini sudah harus mencari uang, bukankah saat pagi ini jadwalnya BDR (Belajar Dari Rumah)”.

“Jualan apa Nak,” tanya saja menatap ke arah Uswah.

“Jualan risol Bu sama roti goreng,” jawab Uswah sambil berlari kecil mengambil box kue-kue itu dari sepedanya. Dua kantong keresek besar warna putih dia tenteng. Masih besaran bawaannya daripada tubuhnya. Tetapi dengan cekatan di tentengnya kresek itu. Hal itu menandakan pekerjaan yang sudah biasa dilakukan.

“Yuk, bawa ke dalam sekolah ya Nak, kue-kuenya, Ibu ingin tahu apa saja yang dijual dan ingin mencicipi kue-kue buatan Ibumu,” ujar saya sambil beriringan berjalan masuk ke dalam lingkungan sekolah.

“Boleh Bu, risolnya enak, ada yang isi sayuran ada juga yang isi mayo,” jawab Uswah yang tampak riang berpromosi sambil mesem-mesem

“Baiklah, Ibu beli yah kue-kuenya,” ujar saya sambil membuka box plastik itu, dan ternyata kue-kuenya masih fresh dan hangat.

“Uswah, siapa yang menyuruh jualan? Kemauan sendiri atau disuruh Ibumu?” tanya saya sembari memilih kue-kue itu. Ada rasa trenyuh, ada rasa bangga, ada rasa sedih berkecamuk dalam batin menyaksikan anak didik melakukan hal ini.

“Uswah tidak ikutan belajar dari rumah bersama ibu guru dan teman-teman yang lain?” tanya saya yang masih sangat penasaran.

“Saya disuruh Ibu jualan, tetapi saya senang Bu bisa membantu jualan kue buatan Ibu,” jawabnya yakin.

“Saya belajarnya nanti siang Bu, mengikuti PJJ dari RCTV nya siang nunggu kakak pulang. Karena saya belum punya HP. Di rumah yang punya HP hanya kakak saya Bu. Jadi saya mengerjakan tugas mengisi jurnal belajarnya nunggu kakak saya pulang kerja dulu. Karena tugas-tugasnya masuk ke HP kakak, “Uswah menjelaskan cukup rinci dengan mukanya yang polos.

“Masya Allah,..” hanya kata itu yang mampu terucap. Berkecamuk rasa, bukankah anak belum dibolehkan kegiatan belajar tatap muka di sekolah, tetapi orang tua membiarkan anaknya untuk berjualan kue secara keliling. Anak perempuan yang belum cukup umur keliling-keliling dengan sepedanya menjajakan kue. Semoga Allah menjagamu, Nak!”. Gumam saya membatin.

“Berapa jumlah uang setiap harinya yang Uswah dapat?” saya bertanya kembali.

“Kadang 100-200 ribu Bu, saya kadang dapat dari ibu 20 ribu. Harga satu kue dari Ibu 1700, Uswah jual 2000, jadi punya untung 300 rupiah. Ditabung 18.000 untuk jajan sayanya 2000. Ditabung untuk beli HP,”begitu Uswah bertutur.

“Luar biasa ya Nak, dirimu sudah pandai berhitung, literasi finansial telah Uswah miliki. Hati-hati yah saat berjualan, ” pesan saya kepada Uswah. Rasa khawatir mendera akan keselamatan jiwanya.

“Ibu beli sebagian kue-kuenya yah, agar cepat habis dan Uswah bisa segera pulang untuk belajar,” ujar saya sambil ikut merapikan barang dagangan Uswah.

“Iya Bu, terima kasih,” jawab Uswah tersenyum sambil memasukkan uang ke dalam tas yang diselendangkan di tubuhnya. Dan berlalu keluar sekolah untuk berkeliling lagi.

***

Cerita nyata dari peserta didik yang ada di sekolah tempat saya bekerja. Salah satu potret peserta didik di masa pandemik covid-19 ini. Masa BDR (Belajar Dari Rumah) yang semestinya dilakukan anak-anak sekolah tetapi kenyataan yang ada adalah anak disuruh jualan oleh orangtuanya. Keselamatandan kesehatan anak tidak terawasi.

Jika menyimak fenomena diatas, bukankah anak didik lebih aman berada di sekolah untuk belajar daripada BDR yang tidak sepenuhnya terawasi kegiatan belajarnya malah berkeliling kemana-mana. Guru tidak akan mampu mengawasi seluruh peserta didik setiap saat pada masa BDR. Para siswanya ada dimana dan kemana saja ketika tidak belajar di sekolah.

Sungguh dilema yang belum terpecahkan.

Semoga segera terbebas dari situasi pandemi covid 19 ini.

Cirebon, 14 Agustus 2020

Novi Nurul Khotimah

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *